Blog tentang internet dan Blogging Tips

Showing posts with label Management Overhaul. Show all posts
Showing posts with label Management Overhaul. Show all posts

Sunday, 21 February 2016

Program Schedule Overhaul

SCHEDULE OVERHAUL

Overhaul yang terjadwal (Schedule overhaul) termasuk dalam pekerjaan perawatan pencegahan (Preventive Maintenance) yang dilakukan berdasarkan interval waktu atau hours meter tertentu yang direkomendasikan oleh factory (Time base maintenance). Interval waktu pelaksanaan overhaul tersebut juga dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, antar lain: kondisi medan operasi, kondisi beban / load, periodic service yang dilakukan, keterampilan operator dan lain-lain.

Schedule overhaul dilaksanakan dengan tujuan untuk merekondisi machine atau komponen kembali pada kondisi standar sesuai dengan standar factory.

RUANG LINGKUP PEKERJAAN OVERHAUL


Lingkup pekerjaan overhaul itu sendiri meliputi: Receiving component, disassembly, washing & cleaning, measurement, parts ordering sesuai standar part overhaul, assembly, testing & adjusting untuk mendapatkan performance kembali standar.

A. RECEIVING & INSPECTION

Receiving & inspection adalah pekerjaan yang harus dilakukan sebelum komponen dilakukandisassembly.

Receiving terhadap komponen yang akan dilakukan overhaul bertujuan untuk mendapatkan data–data yang jelas dari komponen tersebut mengenai kondisi kondisi komponen terhadap: kerusakan, atau kekurangan seperti keretakan (crack), goresan (scratch), penyok (dent), bengkok (bend), maupun hilang (missing), dan sebagainya dengan cara visual check kemudian hasilnya pengecekannya dituangkan dalam lembaran check sheet / QA sheet receiving.

Agar hasil visual check tersebut dapat maksimal, lakukan pre-washing terhadap bagian–bagian yang kotor oleh bocoran oli, grease, coolant maupun bagian yang tertutup dengan tanah atau debu.

B. DISASSEMBLY

Disassembly adalah pekerjaan pembongkaran komponen menjadi sub–sub komponen secara terpisah. Tujuan dari disassembly adalah untuk mendeteksi kerusakan–kerusakan sub komponen, seperti: keausan (worn), kebengkokan (bend), kemacetan (jammed) yang kemungkinan terjadi sehingga mengakibatkan kerusakan yang lebih parah terhadap komponen yang lainnya.

Disassembly juga harus sesuai dengan prosedur yang ada dalam shop manual, untuk menghindari kerusakan komponen saat pelaksanaan pembongkaran. Gunakan shop manual dan special tools yang tepat serta tuangkan data–data hasil disassembly tersebut kedalam QA sheet diassembly. Sub komponen yang masih dapat dipakai kembali ditempatkan pada tempat khusus untuk selanjutnya akan didistribusikan ke section sub komponen atau PTA.

Sedangkan sub–sub komponen yang rusak juga ditempatkan pada tempat khusus untuk dokumentasi dan analisa kerusakan.

C. WASHING & CLEANING

Washing & cleaning adalah pekerjaan yang dilakukan untuk mencuci maupun membersihkan komponen untuk menghilangkan kotoran seperti tanah, debu yang menempel, fuel, oil, grease dan coolant agar komponen menjadi bersih sehingga apabila ada bagian yang rusak seperti retak dan scratch dapat terlihat dengan jelas.

Sebelum washing dilakukan pastikan detergent atau pembersih yang dipakai tepat untuk part atau komponen tersebut dant tidak membuat part atau komponen tersebut rusak atau berubah bentuk (deformation), yang perlu diperhatikan dalam proses washing adalah:
  • Washing harus dipisahkan antara small komponen dan large komponen.
  • Pilih Deterjen atau chemical yang tepat untuk setiap komponen (missal: chemical yang bersifat basa tinggi jangan dipakai untuk mencuci komponen dari aluminium).
  • Jika menggunakan air atau udara bertekanan, sesuaikan tekanannya dengan kotoran yang akan dibersihkan.
  • Untuk membersihkan lubang dari kotoran gram – gram keausan gunakan brush yang bersifat magnet.

D. MEASURMENT

Measurment adalah pekerjaan yang wajib dilakukan dalam proses overhaul komponen. Measurment wajib dilakukan dengan menggunakan alat ukur (Special tools) yang sesuai dan kondisinya tidak rusak untuk mendapatkan data yang akurat tentang kondisi komponen tersebut.

Special tools tersebut antara lain: Micro meter, dial gauge, vernier caliper, insulation tester dan sebagainya. Pada tahap proses measurement ini lakukan juga proses inspection atau visual check terhadap bagian yang rawan terhadap keretakan dengan menggunakan alat deteksi keretakan seperti color chek ataupun magnetic flow detector.

Measurement dilakukan untuk mendapatkan data – data akurat berupa angka – angka hasil ukur untuk dibandingkan dengan standarnya.

Hasil perbandingan antara data actual pengukuran dengan maintenance standar akan mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa part atau komponen tersebut masih layak untuk dipakai lagi (use again) atau harus di repair sebelum dipasang (use after recondition) atau harus diganti (replace).

Pedoman yang digunakan untuk mengambil kesimpulan tersebut selain dari maintenance standar, juga harus disediakan “guidance for reusable part”.

Untuk memandu mekanik dalam melakukan measurement tersebut digunakan check sheet / QA measurement.

E. PART ORDERING atau RECOMMENDED PARTS

Setelah didapatkan hasil dari inspection dan measurement, maka akan menghasilkan data–data akurat yang akan kita gunakan untuk melakukan recommended parts terhadap part yang kita simpulkan bahwa part tersebut rusak dan harus diganti. Part yang kita order ini adalah part additional atau surcharge (part tambahan), sedangkan satandar part overhaulnya (SPO) sudah lebih dahulu diproses sebelum komponen dibongkar.

Recommended part ini harus mengacu pada part book yang sesuai dengan unit dan komponen tersebut, selain itu gunakan juga parts service news (PSN) apabila ada improvement dari factory. Part order adalah pekerjaan menentukan dan meminta (order) jenis dan jumlah part yang rusak, aus atau hilang saat yang datanya kita dapatkan dari hasil inspection dan measurement.

Untuk mempermudah proses ordering part tersebut maka dibuatkan rangking terhadap part yang sering dipakai dalam proses overhaul tersebut. Lebih detailnya mengenai bagaimana menentukan rangking part dan proses recommended part akan dijelaskan pada materi selanjuttnya.

F. ASSEMBLY

Setelah part yang diorder sudah tersedia, maka part tersebut kita assembly kembali sesuai petunjuk atau langkah-langkah yang ada pada shop manual dengan menggunakan special tools yang sesuai.

Untuk proses assembly ini yang harus kita perhatikan adalah cara atau standar ukuran yang harus ada pada setiap part yang kita pasang tersebut, misalkan standar tightening torque, end play, back lash, protrusion, sinking, clearance dan sebagainya. Standar-standar tersebut dapat kita temukan pada shop manual. Untuk memandu mekanik pelaksana dan menjaga kualitas hasil dalam melakukan proses assembly tersebut digunakan sebuah panduan berupa check sheet assembly / QA assembly.

G. PERFORMANCE TEST (TESTING & ADJUSTING)

Testing adjusting dilaksanakan setelah semua part dan sub komponen selesai dilakukan–assembly secara lengkap kemudian dilakukan pengujian apakah komponen tersebut siap dipakai dan telah mencapai performance yang sesuai dengan factory. Adjusting wajib dilakukan guna mendapatkan standar performance yang optimal dan sesuai dengan kondisi komponen dari factory.

Testing dan adjusting ini dapat dilakukan selama proses assembly maupun pada saat test performance di test bench atau melalui uji secara terpisah sub komponen tersebut, seperti: Fuel Injection Pump (FIP), Alternator, Starting motor dan beberapa komponen lainnya.

H. FINAL CHECK & COMPLETED

Setelah komponen dinyatakan standar atau baik, tahap berikut adalah final check atau pengecekan terakhir terhadap kelengkapan komponen, pengecatan atau painting, pemberian label-label peringatan dan perhatian (labeling) kemudian masking

Saturday, 20 February 2016

Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas overhaul

Pentingnya pengendalian kualitas overhaul dalam setiap proses pekerjaan overhaul dapat dijalankan dengan mudah apabila kita mengetahui faktor-faktor apa saja sebenarnya yang bisa mempengaruhi kualitas dari hasil overhaul tersebut.

Berikut adalah gambaran mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan overhaul:
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas overhaul
Dari gambaran tersebut diatas, sebenarnya hanya dua faktor saja yang dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan overhaul, yaitu:
  1. Kedisiplinan dalam penggunaan referensi, dan
  2. Kedisiplinan dalam memakai referensi tersebut dengan benar.
Dalam teknis pelaksanaan pekerjaan overhaul harus dilengkapi referensi-referensi yang mendukung agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan lancar dan parameter-parameter kualitasnya dapat terukur.
Beberapa referensi minimal yang diperlukan tersebut diataranya adalah:
  • Shop manual atau service manual atau overhaul manual
  • Parts book atau parts katalog
  • Parts service news
  • Panduan kualitas kerja (PK2)
  • Check sheet Quality Control / Quality assurance (QA)
  • Common tools
  • Specials tools
  • Support equipment
Adapun dari sisi non-teknis yang bisa mempengaruhi kualitas pekerjaan overhaul yaitu dari sisi mental atau habit atau prilaku pelaksana overhaul dalam menggunakan referensi-referensi yang sudah ada tersebut apakah dalam prakteknya digunakan dengan sungguh-sungguh atau disiplin.

Sikap mental atau prilaku pelaksana pekerjaan overhaul tersebut dapat dilihat dari bagaimana mereka melaksanakan faktor 5K dengan benar. 5K tersebut adalah:
  • Ketelitian
  • Kerapihan
  • Kebersihan
  • Kesegaran
  • Kedisiplinan
Penjabaran dari 5K tersebut diatas akan dibahas kusus pada bagian berikutnya. Demikian mengenai faktor faktor yang mempengaruhi kualitas pekerjaan overhaul. Program schedule overhaul yang sudah direncanakan dengan matang dapat berjalan dengan baik apabila kualitas hasil pekerjaan overhaul tersebut "no-redo" dan " reliable" sehingga umur pakainya sesuai yang diharapkan. Semoga kedepan bisa lebih baik.

Definisi Engine Overhaul

Definisi Engine Overhaul

Apa sih sebenarnya definisi dari "Engine Overhaul" ?

Dari sumber-sumber yang saya dapatkan di internet tidak banyak yang menjelaskan secara kongkrit apa itu definisi engine overhaul.

Ada yang menyebutkan bahwa engine overhaul adalah "turun mesin", ada juga yang menyebutkan kalau overhaul adalah service berat / besar, ada juga yang menyebutkan sebagai kegiatan memeriksa dengan teliti untuk memperbaiki keadaan, membuka dan memperbaiki apa yang kurang baik.

Ada satu sumber yang menurut saya bisa kita jadikan acuan yang menyebutkan bahwa definisi engine overhaul (rebuild) adalah suatu prosedur (pekerjaan / program) terorganisir yang dilakukan untuk mengembalikan performa engine ke nilai spesifikasi standar pabrik dan memberikan usia kedua dengan merekondisi komponen yang aus atau rusak mengacu pada petunjuk pemakai ulang (Reusable Parts) komponen menurut standar pabrik.

Dari penjelasan diatas kesimpulannya adalah, bahwa engine overhaul adalah:
  • Pekerjaan yang teroganisir (perlu adanya perencanaan yang baik)
  • Bertujuan untuk mengembalikan performa engine kembali ke standar pabrik.
  • Memberi usia kedua pada engine (menambah umur pemakaian engine)
  • Penggantian atau pemakaian ulang komponen / parts mengacu pada petunjuk pemakaian ulang (Guiden for Reusable Parts) yang dikeluarkan oleh pabrik.
Lalu apa saja pertimbangan-pertimbangan untuk dilakukannya suatu pekerjaan engine overhaul dan hal-hal apa saja yang dapat mempercepat interval engine overhaul maupun metode engine overhaul yang bagaimana yang baik untuk dilakukan ?

Tunggu postingan selanjutnya. Jika bermanfaat mohon dibantu sharing melalui FB, G+ atau twitter

Terima kasih.


Pertimbangan Engine Overhaul (Engine Rebuild)

Pertimbangan untuk dilakukannya engine overhaul.

Overhaul direkomendasikan untuk dilaksanakan sebelum engine mengalami kerusakan, dengan kata lain engine di overhaul dengan penggantian sejumlah parts yang aus dengan parts yang baru.

Parts yang biasanya mengalami keausan tersebut diantaranya: piston ring, rod bearing, main bearing, valve, seat dan lain sebagainya.

Disamping penggantian parts yang telah disebutkan sebelumnya, hal lainnya yang dilakukan sewaktu melakukan overhaul adalah:
  • Pemeriksaan menyeluruh atas parts yang lainnya.
  • Penggantian seal, gasket, o-ring, packing dan lain sebagainya.
  • Pembersihan saluran-saluran di engine block.

"Pengukuran yang nyata, untuk menentukan masa overhaul engine adalah dengan mengukur output tenaga (Power), tekanan kompresi, konsumsi bahan bakar dan konsumsi oli. Jika engine masih memenuhi standar performa tersebut diatas, maka engine tidak perlu untuk dioverhaul meskipun interval jam (Service hour) overhaulnya sudah tercapai".

Berikut ini pertimbangan-pertimbangan untuk dilakukannya overhaul engine:

1. Service Hour

Service hour merupakan nilai rata-rata yang diambil dengan asumsi load faktor engine yang sesuai dengan aplikasinya. Serive hour yang tertera mungkin akan terlalu tinggi jika engine dioperasikan dengan beban yang terlalu tinggi dan mungkin akan terlalu rendah jika engine dioperasikan dengan beban yang terlalu ringan.

Pengurangan jam operasi engine pada kondisi full load tentunya akan menurunkan rata-rata kebutuhan power yang dihasilkan engine. Dan penurunan rata-rata power yang dihasilkan engine akan meningkatkan umur engine dan interval overhaulnya, begitu juga sebaliknya.

Kesimpulannya adalah: pertimbangan untuk overhaul engine berdasarkan service hour bisa terlalu cepat apabila engine dioperasikan dengan kondisi load yang terlalu ringan, begitu juga sebaliknya akan terlalu lama apabila engine dioperasikan dengan kondisi load yang terlalu berat.

2. Total Fuel Consumption

Total fuel consumption merupakan indikasi terbaik yang dapat digunakan dalam menentukan sebuah engine harus di overhaul, meskipun nilai ini meruapakan perkiraan. Fuel consumption lebih mencerminkan pembebanan pada engine, karena saat beban engine meningkat maka fuel consumptionjuga meningkat, begitu juga sebaliknya,

Kesimpulannya adalah: Engine yang beroperasi dengan load yang besar secara terus-menerus akan lebih cepat untuk di overhaul dibandingkan dengan engine yang beroperasi dengan load yang terlalu ringan secara terus menerus, karena dengan load engine yang berbeda pencapaian fuel consumptionnya dalam kurun waktu yang sama juga berbeda.

3. Oil Consumption

Oil consumption juga dapat dipergunakan sebagai indikator untuk menentukan kapan engine harus di overhaul. Konsumsi oli proporsional dengan persentasi beban engine. Ketika persentase beban engine meningkat, jumlah oli yang di konsumsi per jam juga meningkat.

Pada saat oil consumption engine meningkat tiga kali lipat dari nilai konsumsi oli standarnya yang diakibatkan oleh keausan normal, maka engine harus dijadwalkan untuk di overhaul disamping dapat juga di indikasikan oleh meningkatnya tekanan "blowby" dan sedikit peningkatan konsumsi fuel.

Kesimpulannya adalah: Apabila konsumsi oli engine meningkat tiga kali lipat dari nilai standarnya ( misalkan standar konsumsi oli dalam waktu 10 jam operasi adalah 5 liter, sedangkan aktualnya sudah lebih dari 15 liter) sedangkan kebocoran oli keluar (external oil leaked) tidak ada, artinya sudah terjadi oil up dan / atau oil down yang terlalu tinggi, maka engine harus segera di overhaul.

4. Faktor Lainnya

Faktor lainnya yang harus menjadi pertimbangan untuk menentukan kapan waktu engine harus di overhaul disamping faktor ekonomis lainnya, adalah:
  • Seberapa konsisten dilakukannya preventive maintenance.
  • Kualitas fuel yang di gunakan.
  • Kondisi medan operasi
  • Hasil laboratorium oil sampling
  • Meningkatnya engine noise dan engine vibration.
Demikianlah beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan acuan dalam menentukan waktu kapan engine harus di overhaul. Apabila overhaul tidak dilakukan, resiko keausan piston ring, rod bearing, main bearing atau kemungkinan terjadinya kerusakan yang lebih parah akan meningkat.

Lalu hal-hal apa saja yang dapat mempercepat interval waktu overhaul engine ? ikuti pembahasan selanjutnya.

Sumber: TT/009 Engine Rebuild.



Thursday, 3 November 2011

Cara mencegah order parts berulang

HAL – HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN AGAR RECOMMENDED PARTS YANG
DIBUAT TERJAMIN KEBENARANNYA.
  1. Kesesuaian parts book yang dipakai dengan unit atau komponen yang akan dikerjakan, dengan penekanan terutama kesesuaian nomor publikasi parts book yang dipakai dengan model dan serial no dari unit atau komponen yang akan dikerjakan. Untuk menjamin ketepatannya pergunakan publication list yang selalu diterbitkan Komatsu.
  2. Pahamilah struktur, fungsi, lokasi, cara kerja dari unit atau komponen yang akan dikerjakan. Pastikan bahwa anda benar – benar telah memahaminya sebelum melangkah selanjutnya.
  3. Kenali dan pastikan terlebih dahulu kondisi unit atau komponen, problem dan jenis kerusakan yang terjadi serta penyebabnya. Hal ini sangat penting dan menentukan tingkat kebenaran dan keakuratan dari ordering terutama jika ordering parts tersebut harus dilakukan tanpa melakukan pembongkaran terhadap komponen yang akan dikerjakan.  
PROSES PENYUSUNAN PARTS RECOMMENDED

Ditinjau dari proses penyusunan parts recommended,  maka parts recommended tersebut dapat disusun berdasarkan kondisi sebagai berikut:
  1. Kondisi sebelum dilakukan disassembling
  2. Kondisi setelah dilakukan disassembling
Uraian penyusunan parts recommended seperti tersebut diatas adalah sebagai berikut:

1.  KONDISI SEBELUM DILAKUKAN DISASSEMBLING.

Penyusunan parts recommended terhadap masing masing komponen dari unit yang belum dilakukan disassembling seperti ini adalah merupakan suatu hal yang sulit, karena hal ini bersifat pra kiraan dan cukup banyak factor yang mempengaruhinya, sehingga hasilnya sering terjadi deviasi, apalagi bila mana parts recommended tersebut disusun jauh lebih awal dari waktu yang dibutuhkan.
Faktor factor yang menyebabkan terjadinya deviasi ini sebenarnya cukup banyak variasinya, yaitu:
  • Pelaksana yang belum memiliki cukup pengetahuan
  • Penggunaan Parts Book yang kurang tepat
  • Kurangnya kemauan untuk mendapatkan Hystorical Data dari komponen / unit.
  • Kurang teliti dalam pelaksanaan pengecekan terhadap pisik komponen
  • Dan lain - lain.
2.  KONDISI SETELAH DILAKUKAN DISASSEMBLING

Penyusunan parts recommended terhadap unit / komponen yang telah dilakukan disassembling adalah merupakan sesuatu yang ideal, karena pada kondisi setelah dilakukan disassembling, seluruh bagian dari masing masing komponen / parts nya dapat diketahui dengan jelas kondisinya. Dan pada kondisi yang demikian kebutuhan spare parts yang diperlukan dapat dengan mudah disusun, begitu pula timbulnya deviasi dapat ditekan sekecil kecilnya.

PENYEBAB TERJADINYA RE-ORDER PARTS

Reorder parts atau order parts susulan ini dapat terjadi karena beberapa factor yaitu:
  1. Pelaksana tidak menguasai reusable parts knowledge sehingga mengakibatkan: parts yang dimaksud tidak diorder dengan asumsi bisa dipasang kembali, namun sebenarnya kondisi pisik dari parts tersebut sudah tidak mungkin untuk dipasang kembali/harus diganti atau parts yang dimaksud tidak diorder dengan asumsi bisa diperbaiki/direpair untuk kemudian dipasang kembali, tetapi kenyataannya parts tersebut tidak bisa lagi untuk direpair atau sebenarnya memang bisa direpair tetapi terjadi kegagalan dalam proses repairnya.
  2. Terjadinya Re-work atau Re-do in proses
    Pelaksana atau mekanik tidak mengikuti standar teknis pelaksanaan yang benar, terutama saat proses parts evaluation atau pengukuran dan re-assembling, seperti misalnya tidak menggunakan form QA dan shop manual.
  3. Tidak menggunakan measurement tools yang tepat atau menggunakan tools yang rusak. 
  4. Recommended parts dilakukan tidak berdasarkan kondisi phisik/actual, tetapi dilakukan dari “jarak jauh”. 
  5. Recommended parts disusun oleh orang lain dan bukan disusun oleh pelaksana yang telah melakukan pengecekan pisik. 
  6. Terjadinya kesalahan penulisan part number pada waktu pembuatan parts recommended atau kesalahan pada saat input ke system saat proses ordering. 
  7. Terjadinya salah pisik atas parts yang telah disupply (parts number benar sedangkan pisik berbeda). 
  8. Terjadinya kesalahan penggunaan parts book sehingga terjadi ketidak cocokan antara parts number yang diorder dengan serial number unit atau komponen nya. 
  9. Salah menuliskan quantity (ada bagian yang sama tetapi quantity nya tidak dijumlahkan). 
  10. Penyusunan parts recommended dilakukan sebelum komponen dilakukan disassembling
  11. Adanya parts yang hilang dalam penyimpanan atau di kanibal unit lain tetapi tidak diproses penggantiannya. 
  12. Terjadinya gagal repair (komponen yang direpair hasilnya tidak sesuai dengan maintenance standar ) 
  13. Site/customer menjanjikan akan supply parts yang harus diganti, tetapi kenyataan nya gagal supply.
TARGET REORDER
 
Reorder sangat mempengaruhi lead time pelaksanaan overhaul, maka perlu ditentukan target berapa kali reorder ini boleh dilakukan. Idealnya, frekuensi reorder adalah nol (0), tetapi dalam kondisi kondisi tertentu hal tersebut masih sulit untuk dicapai, oleh karena itu ketentuan atau sasaran atas hasil yang menyangkut reorder ini adalah sebagai berikut:

a.  FREKUENSI ORDER PARTS

Frekuensi order parts secara keseluruhan adalah paling banyak 3 (tiga) kali order, dimana orderan yang pertama adalah parts standar overhaul (APL), kemudian order parts kedua adalah additional parts (surcharge parts) dan order parts ketiga (re-order) apabila terjadi kegagalan dalam proses repairing di  local shop.
Dengan demikian target dari reorder yang diijinkan hanya boleh 1 (satu) kali re-order saja, itupun kalau ada komponen yang gagal repair.

b.  WAKTU PELAKSANAAN ORDER PARTS

Pelaksanaan order parts standar overhaul atau APL ideal nya adalah sebelum komponen dilakukan pembongkaran atau disassembling (berdasarkan fixed  plan overhaul), sehingga diharapkan pada saat akan memasuki proses assembling kembali, parts standarnya sudah tersedia. Sedangkan pelaksanaan order parts additional (parts surcharge) dilakukan setelah selesai disassembling, evaluation dan measuring komponen, waktu pelaksanaan order part nya tergantung kebijakan dan kesepakatan bersama sejak komponen di -disassembling, lebih cepat lebih baik.

LANGKAH LANGKAH PENCEGAHAN TERJADINYA REORDER
  1. Dalam setiap penyusunan recommended parts harus disusun berdasarkan hasil pengecekan pisik terhadap komponen yang rusak, dimana perlu atau tidaknya parts tersebut diganti, harus berpedoman kepada guiden reusable parts.
  2. Sebelum memutuskan untuk melakukan repair oleh bengkel luar, pelajari aspek aspek teknis nya terhadap komponen tersebut, dengan maksud agar tidak terjadi kegagalan dalam proses repairing yang dilakukan.
  3. Mengikuti prosedur teknis pelaksanaan dengan benar dan gunakan measurement tools yang yang tepat.
  4. Melaksanakan proses assembling sesuai shop manual dan QA (Quality Assurance), agar tidak terjadi rework in proses sehingga tidak muncul kebutuhan parts baru akibat rework tersebut.
  5. Hindari penyusunan recommended parts dari “jarak jauh”
  6. Recommended parts harus disusun sendiri oleh mekanik yang telah melaksanakan pengecekan / pengukuran dan hindari pending job terhadap orang lain.
  7. Gunakan parts book yang sesuai dengan serial number atas unit atau komponen yang dikerjakan.
  8. Penyimpanan parts baru atau lama / house keeping harus rapih untuk menghindari terjadinya kehilangan – kehilangan.
  9. Usahakan untuk komponen yang masih tertinggal dilokasi lain bisa segera diambil dan paling tidak kondisi pisiknya harus diketahui secara pasti.
  10. Gunakan form canibal apabila akan melakukan proses pinjam meminjam parts atau komponen, agar proses penggantian nya jelas dan tidak membebani unit yang di kanibal.

RANGKING PARTS OVERHAUL

Penentuan ranking parts untuk overhaul bisa menjadi sangat subjectif sekali. Penentuan ranking akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:  
  • Jenis parts itu sendiri yang berkaitan dengan struktur, bahan, fungsi, lokasi dan tempat kerja.
  • Tingkat pemahaman pelaksana overhaul terhadap struktur, fungsi, lokasi dan cara kerja dari parts atau komponen tersebut.
  • Target life time dari unit / komponen sesudah di overhaul.
  • Tingkat pemahaman pelaksana Overhaul / mekanik tentang reuseable parts yang didapatkan dari buku petunjuk, manual, dan pengalaman overhaul itu sendiri.
LATAR BELAKANG PEMBERIAN RANKING

Jika kita harus melakukan ordering parts tanpa melakukan pembongkaran terlebih dahulu terhadap komponen tersebut, tidak dapat dihindari harus kita perkirakan dan tentukan perlakuan apa yang harus kitaberikan terhadap setiap parts yang akan kita bongkar. 
  • Sering sekali kita terperosok kedalam suatu keadaan dimana kita tidak bisa menentukan dengan pasti bahwa satu parts tertentu mutlak harus kita ganti atau tidak, sebab akan selalu ada kemungkinan kondisinya masih baik walaupun telah mengalami satu periode pengoperasian.
  • Jika kita batasi ordering parts kita hanya pada parts yang kita rasakan dapat kita tentukan mutlak penggantiannya, jumlah item parts yang kita  buat akan sangat miskin dan kurang memadai sehingga kemungkinan untuk kurang pada saat proses pengerjaan akan besar sekali.
  • Sebaliknya, jika kita harus order semua parts yang  kita curigai dan rasakan mungkin diganti (pasti maupun tidak), ordering parts kita pasti akan membengkak baik dari segi item maupun biaya. Akibatnya akan banyak sekali parts yang mungkin tidak terpakai pada saat proses pengerjaan nanti.
  • Patut kita akui dan sadari tingkat kesulitan yang harus kita hadapi jika ingin membuat satu ordering parts yang realistis, tepat dan akurat tanpa harus membongkar terlebih dahulu komponen yang akan kita kerjakan nanti.
  • Salah satu pola pendekatan yang dapat kita lakukan adalah dengan memberikan ranking kepada setiap parts yang kita anggap harus kita order.
  • Jadi pengertian ranking disini  adalah jenis dan sifat perlakuan khas yang harus kita terapkan pada setiap parts yang harus kita order pada saat pengerjaan overhaul tersebut dilaksanakan
JENIS JENIS RANKING PARTS OVERHAUL


BATASAN - BATASAN RANKING PARTS OVERHAUL

a.  Ranking A: Mutlak diganti.
Pengertian mutlak diganti disini adalah parts tersebut dapat dipastikan penggantiannya tanpa melalui proses pengukuran dan pemeriksaan.

b.  Ranking B: Kemungkinan besar diganti.
Pengertian kemungkinan besar diganti disini mengacu kepada :
  • Sifat (karakteristik) dari penggantian
  • Nilai kemungjkinan (probability) dari pelaksanaan penggantian itu sendiri
Artinya seluruh parts yang ranking B, kepastian penggantiannya ditentukan setelah melalui proses pengukuran atau pemeriksaan. Dan kemungkinan untuk diganti bila ditinjau prosentasi penggantian perfrekuensi berkisar
antara 60 – 80 %.

c.  Ranking C: Kadang – kadang diganti.
Sebagaimana pada Ranking B, pengertian kadang kadang diganti disini juga mengacu pengertian :
  • Sifat (karakteristik) dari penggantian part.
  • Nilai kemungkinan (probability) dari pelaksanaan penggantian itu sendiri. 
Seluruh parts yang ber ranking C, kepastian penggantiannya ditentukan setelah melalui proses pengukuran atau pemeriksaan. Prosentase penggantian perfrekuensi pekerjaan berkisar antara 10 – 30 %.

Untuk Ranking AX, BX & CX hampir sama dengan Ranking A, B & C untuk penentuan prosentasi perfrekuensinya. Yang dimaksud dengan FABRIKASI disini adalah direpair, dengan berbagai perlakuannya atau dibuat secara LOKAL, tanpa harus mengganti komponen tersebut dengan GENUINE PARTS.

PEDOMAN UMUM DALAM PENETAPAN RANKING

a.  Jenis parts yang diberi ranking A
  • Parts yang pasti rusak akibat proses pembongkaran. Contoh: Packing, gasket, seal oil, lock plate, pin cotter, expansion plug dan sebagainya.
  • Filter – filter dan element. Contoh: Fuel filter, oil filter, air cleaner, corrosion resistor dan sebagainya.
  • Parts yang tidak memiliki standar dimensi dan repair limit. Contoh: Ring seal, seal piston, wear ring dan sebagainya.
  • Bolt dan washer yang bergesek langsung dengan tanah. Contoh: Bolt shoe, bolt buttom guard, bolt track frame.
  • Parts berisiko tinggi yang apabila dipakai ulang, terutama apabila dikaitkan dengan target life time unit sesudah overhaul, tidak dapat dijamin ketahanannya. Contoh: Piston ring, valve guide, half collet, metal bearing, hose dan sebagainya.
b.  Jenis parts yang diberi ranking B
Yaitup parts yang memiliki standar dimensi yang kepastian penggantiannya ditentukan berdasarkan hasil pengukuran dan pemeriksaan dan prosentase penggantiannya per-frekuensi overhaul berkisar antara 60 – 80 %. Contoh: Plate, disc, bolt – bolt pada engine tertentu, spider dan sebagainya.
 
c.  Jenis parts yang diberi ranking C Parts yang kepastian penggantiannya ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengukuran dan prosentase penggantiannya per frekuensi pekerjaan overhaul berkisar antara 10 – 30 %. Contoh: Gear, Wire, Switch, Gauge dan sebagainya.

Untuk menentukan part mana yang harus diganti dalam proses overhaul merupakan faktor penting dalam menentukan lead time proses overhaul, artinya sebelum komponen dibongkar sebaiknya parts standar overhaul sudah disiapkan terlebih dahulu.

Kemudian untuk mencegah agar tidak terjadi proses order parts yang berulang-ulang silahkan lihat disini.

Cara pengisian form JSS

CARA PENGISIAN FORM JOB SCHEDULE SHEET

Penjelasan tentang cara pengisian Job Schedule Sheet adalah sebagai berikut:

1.  EQUIPMENT MODEL: diisi sesuai dengan unit model yang dikerjakan. Untuk kolom ini, bilamana komponen yang dikerjakan tidak ikut bersama unitnya, kolom ini tetap harus diisi.

2.  EQUIPMENT SERIAL NO: diisi dengan serial number unit yang dikerjakan.

3.  EQUIPMENT CODE NO: diisi dengan code number unit yang dikerjakan.

4.  COMPONENT NAME: diisi dengan nama dari komponen yang dikerjakan

5.  COMPONENT MODEL: diisi dengan model komponen yang dikerjakan.

6.  COMPONEN SERIAL NO: diisi dengan serial number komponen yang dikerjakan.

7.  JOB DESCRIPTION: diisi dengan uraian pekerjaan yang dilakukan terhadap unit atau komponen tersebut.

8.  WO NO: diisi dengan nomor work order atas pekerjaan yang dilakukan.

9.  WO DATE: diisi dengan tanggal work order tersebut diterbitkan.

10. CUSTOMER: diisi dengan nama customer atau site pemilik unit atau komponen yang akan dilakukan overhaul.

11. JOB PROGRESS: kolom ini diisi sesuai dengan langkah atau step pelaksanaan pekerjaan yang diuraikan sejak unit atau komponen masuk sampai dengan ready for delivery atau ready for use. Urutan progress dimulai dari bawah kolom.

12. DAYS: diisi dengan perincian waktu pelaksanaan pekerjaan atas masing-masing langkah atau step atas uraian nomor 11, dimana secara total kolom nomor 12 ini tidak boleh melebihi batas waktu standar yang sudah ditentukan.

13. %: diisi sesuai dengan perincian besarnya prosentase atas masing masing langkah atau step pelaksanaan pekerjaan atas kolom 11, dimana cara menghitungnya adalah sebagai berikut :
  • Bilamana total kolom 12, jumlahnya dianggap sama dengan 100 %, maka besarnya prosentase atas masing masing langkah atau step, menjadi :
14. ACC: diisi dengan akumulasi persentasi pada masing-masing langkah pelaksanaan pekerjaan atas kolom 11, dimana cara mengisinya adalah sebagai berikut:
15. MONTH: disi dengan bulan atas periode pelaksanaan pekerjaan.


16. DATE: diisi dengan tanggal atas bulan sesuai dengan periode pelaksanaan pekerjaan, dimana dalam hal ini tanggal yang diisikan tidak harus dimulai sejak tanggal 1 (satu), tetapi harus dimulai sejak tanggal unit atau komponen masuk.

17. MAN HOURS UTILITY: diisi dengan total jam kerja effective yang terpakai untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, dimana :
  • Total jam kerja = penjumlahan jam kerja effective dari beberapa orang mekanik pelaksana yang mengerjakan pekerjaan tersebut.
  • Jam kerja yang dimaksudkan adalah merupakan jam kerja normal atau standar dan bukan jam kerja lembur.
18. MAN HOURS OVER TIME: diisi dengan total jam kerja effective yang terpakai untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, dimana total jam kerja yang dimaksud bukan termasuk sebagai jam kerja biasa atau normal, akan tetapi sebagai jam kerja lembur.

19. DELAYED CODE: diisi dengan kode keterlambatan (Delayed code) yang menghambat pekerjaan tersebut. 

20. DELAYED HOURS: diisi dengan besarnya man hours keterlambatan sesuai dengan yang dimaksud pada kolom no. 19. Kolom code dan hours ini harus diisi lengkap sesuai kondisinya setiap hari.

21. PARTS ORDER ITEM: diisi dengan total items atas parts yang diorder sesuai dengan tanggal order tersebut diterbitkan dimana status ordernya adalah bukan sebagai re-order (order susulan).

22. PARTS ORDER PCS.: diisi dengan total pcs atas parts yang diorder sesuai dengan tanggal order tersebut diterbitkan dimana status ordernya adalah bukan sebagai re-order (order susulan).

23. MAN HOURS REWORK: diisi dengan total man hours atas pekerjaan re-work pada saat
tanggal pelaksanaan.

24. SECTION: diisi dengan nama section yang membuat job schedule sheet ini.

25. MAN POWER: diisi dengan nama-nama mekanik yang melaksanakan pekerjaan tersebut.

26. GRAFIK KONTROL: diisi dengan grafik garis, dimana disini terdapat graphik plan versus actual yang perlu dimonitor dan dilakukan up to dating setiap hari setiap mekanik atau kordinator atau group leader yang memimpin section atau pekerjaan yang sedang dilakukan. 


PERHITUNGAN DELAYED TIME

Pada form job schedule sheet, kolom delayed time ini disediakan secara khusus dimana kegunaannya adalah untuk merekam seluruh hambatan-hambatan yang terjadi selama proses pelaksanaan pekerjaan berlangsung.

Mengingat hambatan-hambatan yang dimaksud sangat beraneka ragam, oleh karena itu maka masing masing hambatan tersebut diberi kode kode-tersendiri, Uraian delayed kode yang dimaksud dapat dilihat pada halaman sebelumnya.

Untuk penulisan kode hambatan tersebut, pertama tama harus diketahui apa bentuk hambatannya, kemudian lihat list delayed code dan cocokan antara bentuk hambatan tersebut dengan list yang ada, setelah kode nya diketahui, isikan pada kolom job schedule sheet.
Proses pengisian seperti ini akan terus berlangsung, dari hari ke hari, sampai dengan selesainya pekerjaan dan pada akhirnya nanti seluruh delayed code yang sudah terekam didalam job schedule sheet tersebut dapat dibuatkan stratifikasi nya sehingga dapat diketahui kontribusi masing masing delayed code nya.

Contoh hasil perhitungan delayed time ini sesuai dengan uraian tersebut diatas sebagai berikut:
Component in   = 24 – 06 – 2010
RFU plan  = 07 – 07 – 2010
RFU actual  = 13 – 07 – 2010
Delayed time  = 6 Days



TOTAL DELAYED TIME  = 8+8+8+8+8+8 = 48 Jam

Disini berarti pekerjaan tersebut diatas dikerjakan oleh 1 (satu) orang mekanik saja karena pada masing masing kolom hours hanya diisi 8 jam yang berarti pekerjaan tersebut ditinggal dan tidak ditangani selama satu hari penuh. (Effective hours 1 hari dihitung = 8 jam saja) dan totalnya adalah merupakan penjumlahan berapa lama delay time nya berlangsung.

DELAYED TIME DISTRIBUTION

Code L = Pekerjaan tersebut tidak dilanjutkan atau tidak dikerjakan karena hari libur, dan besarnya kerugian per hari karena hal tersebut adalah sebesar 8 jam dikali jumlah man power yang mengerjakan pekerjaan tersebut. Total = ( 8x1 ) + ( 8x1 ) + ( 8x1 ) + ( 8x1 ) = 32 jam

Code B = Pekerjaan tersebut tidak dilanjutkan atau  tidak dikerjakan karena tidak ada man power yang mengerjakan pekerjaan tersebut dan besarnya kerugian per hari karena hal tersebut adalah sebesar 8 jam dikali jumlah man power yang mengerjakan pekerjaan tersebut. 
Total = ( 8x1 ) + ( 8x1 ) = 16 jam 

PIE CHART DISTRIBUTION


MONITORING SYSTEM / REVIEW METHODE DALAM RANGKA PELAKSANAAN
OVERHAUL JOB

1.  DAILY MONITORING
  • Ketahui hasil aktifitas actual dibandingkan dengan  plan nya, dan tuangkan kedalam for job schedule sheet.
  • Tentukan aktifitas apa yang akan dilakukan pada hari ini bilamana hasil aktifitas actualnya tidak sesuai dengan plan nya / terjadi keterlambatan.
  • Tentukan target apa yang ingin dicapai pada hari ini, dan informasikan hal tersebut kepada para pelaksana ataupun group leader, melalui morning meeting (morning talk).
2.  WEEKLY MONITORING
  • Presentasikan hasil aktifitas actual dibandingkan dengan plan nya, melalui forum production meeting (KPI meeting) yang dihadiri section section lain.
  • Informasikan hal hal yang telah menghambat kelancaran pelaksanaan pekerjaan, terutama yang menyangkut atas item item spare parts yang pending, pekerjaan bengkel luar yang belum selesai dan lain sebagainya.
  • Review atas rencana aktifitas minggu sebelumnya, agar bisa diketahui aktifitas mana yang sudah selesai dilakukan dan aktifitas mana yang belum dilakukan.
  • Tentukan langkah langkah / aktifitas yang akan dilakukan untuk mengejar ketinggalan dari waktu yang sudah direncanakan semula.
Contoh lead time proses pekerjaan overhaul untuk masing-masing komponen dan unit bisa lihat disini.

JOB SCHEDULE SHEET

Job Schedule sheet merupakan salah satu tool dalam pelaksanaan pekerjaan overhaul yang dapat dipakai untuk mengontrol progress atau perkembangan pelaksanaan pekerjaan repair maupun overhaul pada suatu komponen atau unit.

Sesuai dengan bentuknya, progress pelaksanaan pekerjaan tersebut diuraikan dalam bentuk grafik.

Job schedule sheet form ini harus dimonitor setiap hari dan diisi bagaimana perkembangannya yang terjadi, sehingga setiap saat dapat diketahui besarnya prosentase aktualnya.

Selain besarnya prosentase perkembangan pelaksanaan, didalam job schedule sheet form juga terekam besarnya man hours, dan hal-hal apa saja yang menghambat proses pelaksanaan pekerjaan.

Job schedule sheet ini mutlak harus diisi dan berdasarkan jenis pekerjaan yang ada, maka bisa dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :
a.  General repair / overhaul.
b.  Component repair / overhaul

Mengingat dalam aplikasi atas kedua jenis pekerjaan tersebut diatas, terkadang ada perbedaan-perbedaan dalam koordinasinya, maka dibawah ini adalah uraian cara pengisian job schedule sheet disesuaikan dengan koordinasi pelaksanaan pekerjaan, yaitu sebagai berikut:

a.  UNIT GENERAL REPAIR ATAU GENERAL OVERHAUL

Setiap unit yang akan general repair atau general overhaul akan masuk ke main shop (bays section).
Dan di bays section ini akan dilakukan removing atas komponen komponen yang perlu dilakukan overhaul, dimana untuk selanjutnya section lain akan menerima distribusi komponen tersebut dari bays section.

Section lain yang menerima distribusi komponen dari bay section, berikutnya akan melakukan overhauling sesuai dengan overhaul requisition / permohonan overhaul yang diterima dari customer. Setelah section tersebut selesai melaksanakan pekerjaan overhauling terhadap komponen tersebut, selanjutnya section yang bersangkutan harus menyerahkan komponen tersebut ke bays section, agar bisa dilaksanakan installing ke unit.

Dan terakhir, bays section mempersiapkan unit agar  siap delivery sesuai dengan ketentuan waktu yang ada. Sesuai dengan flow of work seperti uraian tersebut diatas, jelas tampak bagaimana koordinasi antara bays section dengan section lain yang terkait.

Selanjutnya dalam hal pembuatan atau penyusunan job schedule sheet atas pekerjaan yang berbentuk unit, perlu adanya koordinasi yang terpadu antara bays section dengan section lain, yaitu sebagai berikut:
  • Setiap kali ada unit masuk, main work shop supervision atau section head setempat harus membicarakannya bersama sama dengan foreman atau group leader masing masing section, untuk bersama sama menyusun job schedule sheet.
  • Pada tahap awal, berdasarkan standar lead time pelaksanaan yang ada, disusun dulu job schedule sheet untuk bays section, yang meliputi pekerjaan remove dan install atas masing-masing komponen dari unit tersebut. 
  • Section lain harus memperhatikan, kapan tanggal komponen ex removing diterima dari bays section dan kapan komponen tersebut harus selesai pelaksanaan overhaulnya. Berdasarkan hal tersebut, section section ini (section yang menerima komponen dari bays section) harus membuat job schedule sheet nya masing masing.
b.  COMPONENT OVERHAUL (TANPA UNIT)

Komponen yang dilaksanakan overhaul tanpa unit, dalam hal pembuatan atau penyusunan job schedule sheet nya, bahwa semua komponen yang dilakukan overhaul idealnya harus dibuatkan job schedule sheet nya.

Misalnya saja ada engine atau transmisi atau differential maupun komponen lainnya untuk dilakukan overhaul. Maka, job schedule sheet untuk pekerjaan engine, transmisi atau differential overhaul tersebut harus dibuat dan disusun oleh section yang mengerjakan komponen tersebut (engine, power train atau hydraulic section).

Dalam hal pembuatan job schedule sheet sendiri sendiri seperti tersebut diatas tentunya tentang kapan waktunya harus selesai atas pekerjaan tersebut, tetap berpedoman kepada target atau komitment yang sudah dibuat.

MANFAAT JOB SCHEDULE SHEET
  • Sebagai tools yang dapat dipakai untuk mengetahui sudah sejauh mana perkembangan actual pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan plan nya.
  • Sebagai tools untuk merekam hambatan hambatan yang mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
  • Sebagai data penunjang untuk memperbaiki process overhaul yang berikutnya, terutama dalam rangka memperbaiki lead time.
ASPEK ASPEK POKOK YANG ADA DIDALAM FORM JOB SCHEDULE SHEET
  • Periode waktu pelaksanaan, lengkap dengan kolom tanggal dan bulan.
  • Urutan langkah pekerjaan yang akan dilakukan, dan jumlah hari pelaksanaan yang direncanakan atas masing masing langkah.
  • Besarnya prosentase atas masing masing langkah.
  • Data data pemilik komponen yang akan dikerjakan (nomor WO, nama site dan lain sebagainya).
  • Kolom normal man hours yang terpakai.
  • Delayed code
  • Kolom man hours delay (tidak mengerjakan job tersebut).
  • Kolom total man hours dan total delay hours. 

Untuk mengetahui bagaimana cara pengisian job schedule sheet tersebut bisa anda lihat disini.

Wednesday, 2 November 2011

5K dalam pekerjaan overhaul

Pengendalian kualitas pekerjaan apapun termasuk pekerjaan overhaul tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal tanpa adanya prilaku atau budaya kerja yang baik dalam bekerja pada setiap pelaksananya.

Budaya-budaya kerja yang baik tersebut diantaranya  adalah:  Bersih, Rapih, Teliti, Rajin atau Disiplin. Pada setiap area kerja atau work shop kita sering melihat papan informasi 5K, atau 5R atau 5S, semua itu adalah untuk mengingatkan kita sebagai pelaksana aktifitas didalam area kerja atau work shop tersebut selalu berprilaku seperti apa yang tertera pada papan informasi tersebut.

Prilaku pekerja maupun kondisi tempat kerja perlu juga diatur agar kualitas hasil pekerjaan bisa maksimal, yaitu dengan menerapkan 5K atau 5R atau 5S di tempat kerja.

5K kepanjangannya adalah: Ketelitian, Kerapihan, Kebersihan, Kesegaran dan Kedisiplinan. 
Beberapa contoh prilaku yang diwakili dengan 5K tersebut diantaranya:

1.  KETELITIAN
  • Menyiapkan shop manual dan part book sesuai dengan model unit / komponen dan serial no-nya. 
  • Menggunakan special tools sesuai dengan kebutuhan komponen.
  • Melakukan re-check atas kondisi alat ukur yang akan dipakai untuk menjamin akurasi ukuran.
  • Membuat daftar parts yang rusak / hilang
  • Mencatat hasil pengukuran dan pemasangan sesuai dengan standard yang telah ditentukan pada shop manual / QA sheet.
  • Melakukan re check atas hasil pemasangan / pengetesan dan memberikan tanda / marking.
  • Melaksanakan seluruh langkah langkah & prosedur kerja yang telah ditetapkan dalam shop manual / QA sheet.
  • Memastikan bahwa seluruh part / komponen yang dipasang adalah part / komponen yang masih bagus kondisinya, sesuai dengan hasil pengecekan dan pengukuran.
  • Mencatat dan mengkolsultasikan seluruh penyimpangan yang terjadi dan memberi judgment atas hasil pengetesan.
  • Membuat risalah / summary atas hasil pekerjaan.
 2.  KERAPIHAN
  • Menempatkan komponen / parts tidak mengganggu aktifitas kerja.
  • Penempatan tools & alat ukur mudah terbaca dan aman bagi pelaksana.
  • Tidak menempatkan komponen langsung diatas lantai,  tetapi menggunakan pallet, keranjang atau rak.
  • Mengelompokan komponen sesuai dengan unit / Work Order nya.
  • Untuk komponen yang kecil seperti Bolt, Nut, washer dan lain lain dimasukan kedalam kantong plastik atau tempat khusus sesuai bagiannya.
  • Memberi tanda pengenal pada komponen sesuai unit nya.
  • Menempatkan sarana kerja yang diperlukan ditempat yang aman dan mudah dijangkau pada saat dibutuhkan.
  • Menempatkan shop manual / QA pada tempat yang mudah untuk dijangkau selama proses assembling.
  • Memindahkan barang barang yang tidak ada kaitannya  dengan pekerjaan assembling ketempat lain.
  • Membuat sistematika reporting sehingga mudah untuk diikuti.
3.  KEBERSIHAN
  • Melakukan pencucian komponen sebelum di inspeksi dan di disassembling.
  • Melakukan pembersihan tools sehingga kering dan bebas oli / debu dan lain-lain.
  • Membersihkan tempat kerja sehingga bebas dari kotoran apabila pekerjaan telah selesai.
  • Melakukan pembuangan oli bekas pada tempat yang telah disediakan.
  • Memberikan serbuk dan membersihkan lantai jika ada genangan atau ceceran oli / solar.
  • Melakukan proses measurment ditempat yang telah disediakan.
  • Pada komponen yang akan di repair tidak banyak coretan, hanya pada tempat yang akan direpair saja yang diberi tanda.
  • Meja kerja bebas dari debu, oli, solar dan lain sebagainya.
  • Komponen yang akan dipasang bersih dari debu dan kotoran dengan cara disemprot dengan angin bertekanan.
  • Lantai bebas / bersih dari debu, ceceran oli, solar dan tidak ada komponen yang mengganggu.
  • Penempatan komponen pada tempat yang bersih dan kering.
 4.  KESEGARAN
  • Sirkulasi udara dalam ruangan / lingkungan memungkinkan untuk pergantian udara bersih dan segar bagi pelaksana, bebas dari debu, asap, bau bauan yang tidak sedap dan warna dinding, meja, lemari dan lain lain diberi warna segar.
  • Memanfaatkan jam istirahat yang telah disediakan sebaik mungkin.
  • Terpenuhi kebutuhan air minum dan extra fuding.
  • Melakukan senam kesegaran jasmani/ olah raga secara rutin.
 5.  KEDISIPLINAN
  • Menggunakan sarana kerja seperti: check sheet QA, tools, manual dan part book yang telah disediakan.
  • Melakukan prosedur kerja seperti yang telah ditentukan.
  • Melaksanakan seluruh prosedur kerja sesuai manual dan menuangkan hasil kerja kedalam QA sheet.
  • Membuat reporting atas hasil pekerjaan.
  • Mematuhi aturan aturan safety dalam pemakaian alat - alat bantu, tools dan special tools.
  • Menggunakan alat alat ukur sesuai dengan batas spesifikasi nya dan prosedur nya.
  • Setiap pekerjaan yang harus dikerjakan di bengkel luar / fabrikasi harus sepengatahuan atasan.
  • Memasang rambu rambu bila sedang melakukan test performance/ ground test.
  • Tidak membuat hal hal yang menimbulkan bunga api pada area painting. 
Istilah lain dari 5K adalah 5S yaitu: Seiri (pemilahan), Seiton (penataan), Seiso (pembersihan), Seiketsu (pemantapan) dan Shitsuke (pembiasaan).

5S adalah adaptasi dari budaya kerja orang Jepang yang artinya kurang lebih sama seperti 5R, dimana Seiri artinya Ringkas, Seiton artinya Rapih, Seiso artinya Resik, Seiketu artinya Rawat dan Shitsuke artinya Rajin.

Dengan demikian apabila ingin mendapatkan hasil pekerjaan overhaul yang berkualitas tinggi, kita harus menggunakan semua referensi kerja dengan disiplin dan prilkaku atau budaya kerja dari pelaksana overhaulnya harus memiliki budaya 5K atau 5S atau 5R.

Wednesday, 26 October 2011

Pengendalian Kualitas Overhaul

QUALITY ASSURANCE (QA)

Quality assurance atau yang sering disebut QA, adalah check sheet yang secara khusus dibuat untuk mendukung proses pekerjaan overhaul maupun pekerjaan remove – install.
Tujuan adanya QA sheet ini adalah sebagai guidance mekanik dalam melaksanakan overhaul dari proses receiving, disassembly, measurement, assembly sampai dengan delivery, untuk meminimalkan adanya Re-Do dalam pekerjaan overhaul. Selain itu QA sheet juga berfungsi sabagai dokumentasi dalam pelaksanaan aktifitas overhaul.

PENGENDALIAN KUALITAS DALAM PROSES OVERHAUL

Berikut adalah pengendalian kualitas dalam proses overhaul secara umum yang dilakukan di Comex shop dengan menggunakan check sheet QA.


Urutan awal dari langkah kerja proses overhaul dimulai dari check sheet QA 7 atau check sheet receiving kemudian diakhiri dengan check sheet QA 1 atau check sheet delivery.

Mengapa check sheet delivery ditempatkan pada nomor 1..?

Sebenarnya hal ini tidak baku atau tidak mesti menjadi patokan, mungkin para pembuat check sheet QA terdahulu (UT), berasumsi bahwa pekerjaan overhaul paling terakhir adalah kalau unit atau komponen yang dilakukan overhaul tersebut sudah RFU dan sudah di delivery, artinya setelah itu tidak ada check sheet lagi yang digunakan, sehingga harus ditempatkan pada urutan paling akhir atau paling ujung. Kalau check sheet delivery ditempatkan pada urutan QA 7, artinya bukan merupakan ujung atau akhir, karena setelah QA 7 masih ada lagi QA 8, QA 9 dan seterusnya.

Rasanya ini tidak perlu diperdebatkan, karena dimulai dari nomor berapapun yang penting adalah bahwa setiap aktifitas proses overhaul untuk menjaga kualitasnya harus ada system pengendaliannya, yaitu check sheet QA.

Karena form check sheet ini sudah dipakai secara nasional baik di Pama maupun UT dengan urutan seperti itu, kita sebagai pelaksana tinggal meneruskan apa yang sudah dibuat oleh para pendahulu.

Berikut ini adalah Check Sheet QA yang dipakai oleh Comex shop berikut fungsi dari masing–masing check sheet tersebut.

a. QA 1 : Delivery Inspection Sheet
Berisi tentang hal-hal yang perlu diperiksa oleh group leader atau supervisor untuk tahap pengiriman / delivery, tujuannya agar group leader atau supervisor terlibat langsung dalam pengendalian tahap delivery komponen.

b. QA 2 : Final Inspection Sheet
Berisi tentang critical point dalam tahap inspection terakhir setelah melalui pengujian dan komponen tersebut dinyatakan siap pakai (Ready For Use / RFU).

c. QA 3 : Testing Performance Sheet
Berisi tentang tahapan dalam proses pengujian atau test bench. Data yang diharapkan saat pengujian dan menuntun proses pengujian tersebut.

d. QA 4 : Guidance Assembly Sheet
Berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan tahapan proses assembly atau pemasangan suatu part atau komponen. Tujuannya adalah menjadi guidance dalam melaksanakan proses assembly dan mendata hasil assembling, tanpa meninggalkan shop manual.

e. QA 5 : Measurment & Inspection Sheet
Berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pengukuran (measurement) dan inspection visual dari komponen dan part overhaul. Tujuannya adalah mendapatkan data komponen overhaul dan menjadikan referensi untuk recommended parts.

f. QA 6 : Guidance Dis-Assembly Sheet
Berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pembongkaran dari suatu komponen, tujuannya untuk mendata kondisi part hasil pembongkaran serta data referensi part order.

g. QA 7 : Receiving Sheet
Berisi tentang hal-hal yang harus diperiksa dalam tahap penerimaan dari komponen yang akan di overhaul. Tujuannya untuk mendata komponen, atas kelengkapan dan kondisinya serta menyiapkan dokumen-dokumen pendukung yang sesuai

Popular Posts

Powered by Blogger.