Blog tentang internet dan Blogging Tips

Saturday, 12 November 2011

Cara memasang seal oil yang benar

Cara memasang seal oil yang benar dapat mencegah terjadinya kebocoran akibat kesalahan dalam proses pemasangan, berikut ini beberapa langkah yang harus diikuti dalam proses pemasangan oil agar tidak terjadi kerusakan pada oil seal yang dapat menyebabkan kebocoran:
  • Pada skenario (a) adalah pemasangan seal yang normal (benar), yaitu ketika udara berada dibelakang arah tekanan oil. Sedangkan skenario (b) ditunjukan bahwa oli mengalir keluar kearah udara karena oil seal dipasang terbalik (salah). 
  • Pastikan bahwa permukaan shaft yang akan kontak dengan seal terbebas dari karat dan scratch. 
  • Berikan adhesive atau sealant pada bagian press fit dari oil seal. Untuk housing yang terbuat dari cast iron harus digunakan pipe sealant untuk mencegah kebocoran.
  • Pasang seal dengan main lip menghadap kesisi oli (hydraulic side). Untuk mencegah scratch pada outer plate seal, ujung dari tempat masuknya seal agar di camper. Karena scratch pada plate seal dapat menyebabkan kebocoran. 
  • Lakukan pemasangan seal dengan cara press fit menggunakan tools yang sesuai.
  • Bila tidak memungkinkan untuk di-press, dapat menggunakan strike plate sebagai tumpuan.
  •  Perhatikan pada saat pemasangan oil seal tidak boleh miring dan tidak boleh dipukul langsung.
  • Berikan grease secukupnya (jangan berlebihan) pada  daerah lip setelah pemasangan, atau sebelum dipasang shaftnya untuk mencegah gesekan kering saat shaft mulai berputar.
  • Untuk Lip Seal yang materialnya terbuat dari Teflon, saat pemasangannya tidak boleh diberi oli atau grease (harus kering). Untuk Lip seal yang terbuat dari Teflon biasanya diberi pelindung plastic, dan pelindung plastic tersebut boleh dilepas hanya pada saat pemasangan, agar selama penyimpanan bagian Lip dari seal tersebut terlindungi.

Demikian cara pemasangan seal oil yang benar yang piper comex sadur dari sumbernya NOK Corporation. Apabila ingin mengetahui analisa penyebab terjadinya kebocoran pada seal oil bisa lihat disini.

Penyebab kebocoran pada seal oil

Penyebab kebocoran pada seal oil sebenarnya hanya terbagi menjadi dua bagian saja, yaitu kebocoran pada bibir seal (lip seal) dan kebocoran pada bagian yang mengikat seal (press fit area).

Analisa penyebab kebocoran pada seal oil yang terjadi pada bagian lip nya dapat dilihat pada diagram dibawah ini:


Sedangkan analisa penyebab kebocoran pada seal oil yang terjadi pada bagian press fit area nya dapat dilihat pada diagram dibawah ini:


Demikian analisa penyebab kebocoran pada seal oil yang piper comex sadur dari sumbernya, yaitu NOK Corporation. Lalu bagaimana cara memasang seal oil yang benar agar tidak bocor ?

Untuk mengetahui cara memasang seal yang benar agar tidak bocor dapat sobat lihat caranya disini.

Tuesday, 8 November 2011

Sejarah common rail fuel system

Sejarah Common rail fuel system dimulai dengan pembuatan prototype pada akhir tahun 60 an oleh Mr. Hiber di Switzerland. Lalu Mr. Ganser dari Swiss Federal Institute of Technology memfokuskan diri dalam hal ini.
Pada pertengahan tahun 60 an, Dr. Shohei Itoh and Masahiko Miyaki, Japanese dari Denso Corporation, mengembangkannya untuk Heavy Duty Vehicles, dan berhasil dengan produk pertamanya yang dinamakan ECD-U2 common Rail system, yang dipasang pada HINO RAISING RANGER truck dan dijual kepada umum pada tahun 1995.
Selanjutnya mulai tahun 1997 Robert Bosch GmbH mulai memproduksi untuk dipakai pada passenger car. Common rail engines dipakai juga pada kapal laut dan locomotive.
Dengan adanya krisis minyak bumi dan emisi, maka sekitar tahun 1990 an, mulai banyak yang mengadopsi common rail system, misalnya Fiat (dikenal sebagai JTD, dipakai pada Fiat Panda), Alfa Romeo, dan Volvo. Common Rail saat ini Common rail system saat ini semakin banyak dipakai. Delphi Automotive Systems di USA juga memproduksinya. Hampir setiap pabrik memberi nama khusus kepada system ini, misalnya : Daimler Chrysler's CDI, Ford Motor Company's, Fiat Group's (Fiat, Alfa Romeo and Lancia), JTD,Renault's DCi,GM/Opel's CDTi,Hyundai's CRDI,Mitsubishi's DI-D,PSA Peugeot Citroen's HDI,Toyota's D-4D, dll.

Prinsip kerjanya.
Solenoid atau piezo valves memungkinkan electronic control yang sempurna terhadap nozzle injection time. Begitu pula jumlah dan tekanan sangat tinggi pada solar menghasilkan kabut yang lebih halus.
Untuk membuat rendah engine noise, maka solar disemprotkan 2 tahapan dari nozzle (bahkan ada yang sampai membagi 5 tahapan dalam satu kali penyemprotan dari nozzle), pertama sedikit solardisemprotkan agar mudah terbakar, lalu setelah terbakar, barulah disemprotkan lagi solar yang lebih banyak kedalam ruang bakar. Nozzle ini biasa dikenal sebagai double spring nozzle, ia sangat efektif menurunkan suara ledakan.
Pada diesel engines biasa, sebuah distributor-type injection pump, diatur oleh engine, meng-supply solar ke injector/nozzle, lalu disemprotkan ke dalam combustion chamber. Dibanding common rail, tekanan solar tsb dianggap “masih rendah”, sehingga pengabutanpun kurang halus, maka hasil pembakaranpun relatif kurang sempurna.
Pada engine dengan common rail systems, distributor injection pump tidak dipakai lagi, sebagai gantinya sebuah extremely high pressure pump menghasilkan solar bertekanan tinggi sampai 1.800 kg/cm2, yang disimpan dalam sebuah reservoir (tube), yang bercabang (sebanyak jumlah cylinder), dan berujung pada masing-masing nozzle, solar siap untuk disemprotkan.
Pada nozzle ada solenoid yang menunggu perintah dari sebuah computer (ECU=Engine Control Unit) untuk menyemprotkan solar ke dalam combustion chamber. CPU dalam hal ini mengalirkan arus listrik ke solenoid pada nozzle. Lamanya listrik yang dialirkan, akan mempengaruhi jumlah solar yang disemprotkan. Sehingga pengabutan halus, pembakaran bersih, emisi rendah, efesiensi solar tinggi, dan suara halus.

Sekarang, teknologi Common-Rail Driect Injection sudah berkembang jauh. Bahkan pabrik mobil Peugeot mengembangkan teknologi yang disebut High Direct Injection (Hdi) yang memadukan ERG (Exhaust Gas Recycling) dan sensor oksigen yang mampu memberikan tekanan bahan bakar sesuai kebutuhan mesin.
Dengan alat tersebut sisa pembakaran didaur ulang kembali ke ruang bakar mesin sehingga tak ada sisa bahan yang terbuang dan hasilnya polusi semakin minim. Bahkan, ERG membuat bahan bakar mesin menjadi jauh lebih irit.

Itu artinya, teknologi diesel terbaru dapat menghemat pemakaian bahan bakar sampai dengan 20% dibandingkan teknologi mesin diesel lama tahun 1980-an. Sudah begitu torsi yang dihasilkan pun meningkat dua kali lipat pada kecepatan rendah, sedangkan tenaga mengalami peningkatan hampir dua kali lipat.
Sisi menarik lainnya adalah menurunnya gas buang dan juga suara bising ketimbang mesin diesel konvensional. Emisi gas CO2 berkurang 20%, pengeluaran Nox dan CO (karbon monoksida) berkurang 40%. Paling menarik, jumlah partikel hidrokarbon yang terbakar meningkat hampir 50%.

Demikian sejarah common rail fuel system yang dikutip dari berbagai sumber.

Monday, 7 November 2011

Sejarah Pompa

Berikut ada artikel dari blog tetangga: yang menceritakan mengenai sejarah pompa, silahkan disimak.

Gallileo dan Pompa
Sebuah cerita sejarah tentang pompa yang di ceritakan kan oleh seorang Master pompa di tempat saya bekerja, beliau bernama Fujikawa san, Managing Director Torishima Global Team,yang sudah malang melintang di dunia perpompaan baik di dalam Jepang maupun di luar negeri. Terlepas dari ke absahan sejarah dari cerita ini, karena memang saya belum menemukan artikel serupa setelah googling selama beberapa menit, cerita ini sangat menarik untuk disimak.
Dengan gayanya yang berwibawa Master Fujikawa mulai bercerita. Saya akan mencoba untuk menceritakan kembali Inti dari cerita itu.
Di zaman renaissance yang di sebut juga zaman kelahiran kembali, dimana seni dan ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat di bumi belahan barat sana, bermunculan tokoh-tokoh terkenal akan karya-karyanya di bidang astronomi,mekanika,kedokteran,dan seni khususnya. Salah satu icon di zaman itu adalah Galileo Galilei. Galileo Galilei lahir di kota Pisa, Tuscany, Italy, tanggal 15 Februari 1564. Konon kota tempat tinggal Galileo Galilei adalah kota perbukitan dimana air untuk keperluan hidup sehari-hari mesti diambil di daerah yang lebih rendah. Setiap harinya Galileo menyaksikan di pagi dan sore hari wanita2 kota tersebut mesti mengambil air di daerah bawah untuk di bawa kembali ke rumah mereka di daerah atas bukit. Merasa kasihan akan nasib para wanita di kotanya itu Galileo berinisiatif untuk menciptkan suatu alat untuk memindahakan air dari bawah bukit keatas dengan mudah. Alat tersebut bernama Pompa. Oh ya sebagai catatan kecil tindakan Galileo untuk menciptakan alat tersebut menurut Master Fujikawa di dorong oleh nalurinya sebagai seorang “Playboy sejati”. Kenapa Playboy?karena menurut Master lagi.“seorang jenius pasti adalah seorang Playboy…,No Exception”, Hmm..kalo di balik bisa gak ya??
Niy way lanjut lagi ke topic, tidak di jelaskan secara rinci oleh Master Fujikawa pompa tipe apa yang di ciptakan oleh Galileo tapi menurut perkiraan saya pribadi pompa itu mungkin salah satu jenis handpump ato lebih familer di Indonesia di sebut pompa dragon, dengan versi yang lebih sederhana pastinya. Setelah alat tersebut berhasil di buat dan terpasang saatnya melakukan performance test, ternyata hasilnya…GAGAL! air gagal di pindahkan dari bawah bukit ke atas, tidak satu tetes pun air yang keluar dari ujung discharge pompa. Berhari hari Galileo memikirkan kekurangan alat ciptaanya tetapi tidak ketemu juga penyelasaianya, hari berganti minggu,minggu berganti bulan,bulan berganti tahun tidak juga dia menemukan penyebabnya, Galileo mulai mencurigai bahwa ketidak berhasilan tersebut tidak terletak di alatnya tetapi karena ada sesuatu sifat dari air yang dia coba pindahkan tersebut yang belum dapat ia mengerti. Hingga akhir hayatnya Galileo belum dapat menemukan jawabannya. Sebelum meninggal Galileo menuliskan kecurigaan2 nya terhadap sifat air itu untuk di temukan jawabanya oleh salah satu muridnya yaitu seorang ilmuan Fisika yang bernama Evangelista Torricelli atau lebih di kenal dengan sebutan Torricelli. Toricelli adalah orang yang menemukan barometer, di dasari atas kecurigaan Galileo bahwa air tidak dapat di pindahkan ke tempat yang cukup tinngi, Torricelli menemukan bahwa Tekanan udara atsmosphere kita di permukaan laut adalah 76 cmHg atau setara dengan 1 Bar atau setara dengan 10 meter kolom air. Seperti yang kita ketahui bahwa air akan mendidih pada suhu 100o C jika tekanan udara yang bekerja di atas permukaanya adalah 1 Bar, dan akan mendidih di bawah suhu tersebut jika tekanan udara yang bekerja dia atas permukaanya kurang dari satu Bar, sebagai contoh adalah ketika kita merebus air di atas gunung.! Bahkan air pun dapat mendidih di suhu kamar atau sekitar 28o C jika tekanan yang bekerja di permukaan air tersebut cukup rendah. Hal ini lah yang terjadi pada pompa Galileo, Galileo mencoba memindahkan air dengan beda ketinggian antara ujung isap pompa dengan pompanya lebih dari 10 meter,mungkin bahkan ratusan meter mengingat jarak antara kaki bukit dan puncaknya cukup jauh. Pada tekanan isap kurang dari satu bar maka air yang di pompa akan menguap dengan sendirinya sifat ini dikenal dengan Water Vapor Pressure. Pada kenyataanya Air tepat akan mendididh pada suhu 15o C pada tekanan 0.017 Bar atau jika di isap dengan tekanan isap sekitar 10 meter kolom air, dan gaileo mencoba memindahkan air dengan beda ketinngian mungkin ratusan meter. Hal ini dapat pula disebut sebagai keterbatasan dari Pompa yaitu pompa tidak dapat memindahkan fluida berupa air denagan jarak isap lebih dari 10 meter (syarat dan ketentuan berlaku).
Sayangnya Galileo tidak sempat menemukan hal ini sebelum beliau meninggal, dan sekali lagi wanita-wanita di kota itu mesti bersabar menunggu “Playboy” lainnya untuk membantu mereka.

Coating material

COATING MATERIAL


Coating material adalah material yang terdiri dari: adhesive, sealant, dan lubricant yang di gunakan untuk proses assembly komponen yang pemakaiannya dengan cara dioleskan.

1.  ADHESIVE
Adalah bahan perekat yang digunakan untuk merekatkan dua material agar terikat dengan kuat (misalnya: kekencangan bolt pada shaft yang berputar) dengan beban getaran dan puntiran yang sangat kuat agar ikatan bolt tidak mudah terlepas.

Beberapa aplikasil dan contoh product adhesive yaitu:
a)  Thread locking adhesive, untuk menjamin hasil rakitan dengan mencegah kendornya nut atau bolt akibat getaran.
  • Threadlocker 243: Adhesive berkekuatan sedang untuk pemakaian umum, cocok untuk bolt hingga M36
  • Removable threadlocker 242: Adhesive berkekuatan sedang untuk bolt hingga M36 dan dapat dibuka kembali menggunakan kunci biasa.
  • Permanen threadlocker 262: Adhesive berkekuatan tinggi untuk mengunci segala bolt yang harus menghadapi goncangan dan getaran hebat.
  • High strength threadlocker 271: Adhesive berkekuatan sangat tinggi untuk bolt sampai M36, dan untuk bolt yang tidak akan dibuka kembali.
b)  Retaining compound, untuk perekat bushing, bearing, pin pulley dan lai-lain. Memperkuat part yang dipasang dengan cara di press. Atau mengencangkan kembali bagian yang sudah kendor dengan cara mengisi celahnya. Mengatasi kebocoran melalui bagian rakitan.
  • Retaining compound 609: Bahan yang cepat kering, mengisi celah sampai dengan 0,15 mm, untuk pemakaian umum, tegangan geser mencapai 24/mm² pada baja.
  • Retaining compound 603: Adhesive yang cepat kering dan encer, dipakai untuk merekat bagian – bagian cylindris yang tidak mungkin dihilangkan seluruh minyaknya.
  • Retaining compound 641: Adhesive berkekuatan sedang untuk merakit bagian  yang sewaktu – waktu dapat dibongkar kembali.
  • Retaining compound 648: Adhesive berkekuatan tinggi dan cepat kering dengan tegangan geser 26 N/mm² pada baja. 

2.  SEALANT
Sealant atau cairan perapat adalah suatu bahan yang digunakan untuk merapatkan atau menutup celah antara dua benda yang ditempelkan, untuk mencegaah terjadinya kebocoran fluida atau gas. Yang termasuk bahan sealant antara lain: Gasket sealant, thread sealant/ pipe sealant.

Beberapa aplikasi dan contoh product sealant yaitu:
a)  Thread sealing / pipe sealant: Menjamin pencegahan kebocoran dicelah – celah ulir. Mengisi celah yang sangat tahan terhadap zat kimia. Berfungsi sebagai pelumas pada pemasangan ulir pipa, mencegah gesekan serta memberikan torsi yang konstan.
  • Thread sealant 565: Cepat kering, tahan bahan pelarut, menyegel seketika pada tekanan rendah, kekuatan dapat diatur untuk memudahkan pembongkaran kembali.
  • Thread sealant 577: Cepat kering dan kental, menyekat dengan cepat, bila sudah mongering kekuatan seal dapat mencapai titik ledak pipa.
  • Thread sealant 567: Sealant pipa untuk pemakaian pada stainless steel dan sambungan metal, sangat efektif untuk tekanan tinggi. Memiliki ketahanan tinggi terhadap bahan pelarut.  

b)  Gasket sealant / liquid gasket: Menutup kebocoran dan lebih efektif dari pada gasket biasa, karena kontak metal ke metal lebih rapat, hanya mengisi jalur yang bocor.
  • Liquid gasket 4 (LG-4): Cepat kering, dapat digunakan pada mounting final drive dan transmission case tanpa gasket. Ketebalan sealant setelah dikencangkan sekitar 0,07 – 0,08 mm dengan temperature kerja antara -50 – 150 °C.
  • Liquid gasket 6 (LG-6): Lambat kering, dapat digunakan pada mounting flange cylinder liner. Jangan digunakan dengan komponen dari bahan cooper alloy. Temperature kerja antara -60 – 230 °C.
  • Liquid gasket 7 (LG-7): Cepat kering, dapat digunakan pada mounting oil pan, flywheel housing dan lain lain tanpa paper gasket lagi. Temperature kerja antara -60 – 230 °C.
3.  LUBRICANT
Lubricant atau pelican, berfungsi untuk melumasi dua benda yang bergesekan agar tidak terjadi keausan atau jammed (macet) karena karat. Aplikasi lubricant disini adalah sebagai anti seize yang berguna untuk melumasi thread bolt agar memudahkan dalam pelepasan kembali. Penggunaan anti seize sendiri hanya untuk bolt pada posisi tertentu, seperti bolt yang terkena temperature tinggi, atau bolt yang menyebabkan mudah berkarat, agar mudah dibuka kembali saat pembongkaran.
  • Molybdenum Disulphide Lubricant (LM-P): Dapat diberikan pada bearing dan shaft pada proses press fitting untuk mrncegah bearing dan shaft lengket atau mencegah karat.
  • Molybdenum Disulphide Grease (LM-G): Dapat diberikan pada bagian Sliding, untuk mencegah bunyi berdecit.


PEMBERIAN THREAD LOCK PADA BOLT
  • Bersihkan oli atau grease yang menepmpel pada bagian ulir yang akan diberi thread lock maupun pasangannya, dengan menggunakan cairan pembersih. Juga bersihkan air yang menempel pada bagian tersebut dengan angin bertekanan. Kekuatan pengencangan akan berkurang 70 % bila ada oli atau grease, dan thread lock akan mengapung tidak bisa mengeras bila kena air.
  • Berikan thread lock disekililing ulir, sisakan 1 - 2 ulir bagian ujung bolt yang tidak diberi thread lock. Jika pemberian thread lock terlalu banyak, ciran akan masuk kedalam lubang ulir dan akan menyebabkan tejebak didalam dan bisa mengakibatkan patah pada bolt atau pecah pada housing.
  • Jangan menanmbah pengencangan atau pengendoran pada bolt yang sudah dikencangkan sebelumnya, karena thread lock sudah mengeras dan tidak dapat diharapkan lagi pengencangan tambahan.
PEMBERIAN PIPE SEALANT
  • Pastikan bahwa ulir part maupun pasangannya bebas dari luka, debu, grease atau oli.
  • Berikan pipe sealant kesekeliling ulir merata, karena kecilnya clearance dari ulir elbow, nipple atau taper plug, sehingga tidak bisa bila kita memberikan pipe sealant disatu titik saja.
  • Hindari pemberian pipe sealant pada ulir female, karena sealant akan masuk ke oli saat pengencangan.
  • Berikan lagi sealant bila part tersebut harus dikencangkan atau dikendorkan kembali.
  • Gunakan seal tape sebagai pengganti sealant bila grease atau oli tidak dapat dibersihkan dari bagian berulir tersebut.
PEMBERIAN LIQUID GASKET
  • Pastikan bagian yang berpasangan bebas dari luka, kotoran, grease maupun oli.
  • Berikan liquid gasket ke-sekeliling permukaan yang akan dipasangkan tanpa terputus, dan segera pasangkan part tersebut, jangan biarkan liquid gasket sampai mengeras.
  • Jangan menggerakan cover setelah dipasang, karena liquid gasket dapat rusak.
  • Berikan lagi liquid gasket bila cover kemudian dilepas lalu dipasang kembali.

Sunday, 6 November 2011

Metode pengencangan bolt yang benar

TIGHTENING FORCE & TIGHTENING TORQUE


Pada gambar disamping dijelaskan, bolt meregang keluar karena adanya reactive force dari benda yang diikat, tekanan tarik (tensile stress) didalam bolt besarnya sama dengan kekuatan regangnya (tensile force) tetapi dengan arah yang berlawanan, sehingga bolt berusaha kembali keukuran semula. Parts dan components yang terpasang diikat oleh tekanan tarik ini (tensile stress). Sedangkan daya pengencangan (tightening force) dari bolt adalah ditunjukan dengan tightening torque (kg.m).

Hubungan antara tightening force dan tightening torque pada bolt dinyatakan dengan rumus berikut sebagai berikut:

M = K * d * T  --> Torque adalah hasil kali dari koefisien gesek dengan diameter bolt (mm) dan force (ton), atau:
T   =   M : ( K * d ) --> Force adalah perbandingan dari torque dengan Ø bolt dan koefisien gesek
                    
Dimana,
M = Torque (kg.m)
T  = Tightening force of bolt (ton)
d = Outer diameter of male screw (mm)
K = Coefficient of friction (value that indicates friction between male and female screw)

Dari pernyataan tersebut diatas, diketahui bahwa apabila tightening torque (M) yang diberikan pada bolts yang sama (diameter nya), maka tightening force pada bolts (T) akan berbeda jika koefisien gesek (K) nya (gaya gesek antara bolt dan lubang ulir) juga berbeda. Dari sini jelas bahwa tightening torque yang sama tidak selalu mengikat part atau komponen dengan daya (force) yang sama, karena dipengaruhi oleh koefisien gesek tersebut.

Perbedaan koefisien gesek (Coefficient of friction) dipengaruhi berbagai faktor contohnya:
  • Kepresisian (accuracy) dari thread,
  • Materials dari screw (bolt atau nut nya), 
  • Kekasaran permukaan, 
  • Celah antara screws, 
  • Pelumasan (lubricating agent), 
  • Kotoran, 
  • Dan sebagainya.
METODE PENGENCANGAN BOLT YANG BENAR UNTUK MENCEGAH KENDOR
  1. Gunakan bolt dengan panjamg yang sesuai. Jika bolt terlalu panjang, ia akan menyentuh dasar  dari lubang ulir sehingga tidak menahan komponen yang diikat. Jika terlalu pendek, ulir tidak cukup untuk menahan komponen dan mengurangi kekuatannya. Panjang thread yang masuk kedalam lubang baut kira-kira 1 ½ dari diameter thread nya.
  2. Saat assembling, kencangkan bolts dan nuts sesuai torque nya.
  3. Kencangkan bolts and nuts pada bidang yang sama secara bergantian (silang) dengan urutan atas - bawah, kiri dan kanan – sehingga daya yang diterima merata.
  4. Saat mengencangkan bolts untuk komponen penting seperti main bearing cap dan connecting rod engine, pengencangan dua kali lebih efektiv. Jika bolt dikencangkan ulang setelah dikendorkan sekali, permukaannya akan pas dan dapat dikencangkan dengan merata. 
  5. Pada tempat dimana bolts dapat dilepas dengan mudah, beri cairan pengikat (tightening agent). Pada bagian ini, bersihkan semua debu dan oli dari  bolt dan female screw (atau lubang ulir) nya. 
CATATAN:
  1. Bolt cylinder head engine harus di torque dengan merata. Untuk mendapatkan kekencangan yang sama, penting untuk membuat koefisien gesek (coefficients of friction) selalu konstan seperti penjelasan diatas. Walaupun cairan khusus yang dapat menjaga koefien gesek tetap konstan ada dijual dipasaran, oli juga dapat digunakan untuk mengurangi koefisien gesek. 
  2. Torque untuk mencapai yield point (titik akhir elastis) dari bolt 10 mm yang dipengaruhi oleh koefisien gesek (coefficient of friction) seperti terlihat pada table dibawah.  
Oleh karena itu, jika bolt 10 mm diberi oli, kencangkan bolt tersebut dengan nilai dibawah standard (3.5 to 7.5kg.m) untuk mencapai nilai saat bolt tidak diberi oli.

Saturday, 5 November 2011

Plastic range turning angle method

ELASTIC LIMIT DAN YIELD POINT

Lakukan percobaan dibawah dengan bahan yang elastis, misalkan snur:


Snur elastis akan memanjang saat ditarik, dan akan kembali kekondisi semula saat dilepas. Snur kembali kekondisi semula karena memiliki internal force yang sama besar dengan kekuatan tarik tadi.
Bolt memanjang dan kembali kekondisi semula dengan cara yang sama, walaupun memanjangnya bolt tersebut tidak bisa kita lihat langsung karena perubahannya kecil. Tetapi, ada batasan seberapa boleh ia memanjang dan kembali lagi. Hubungan antara gaya untuk memanjangkan (lengthening force /load) dan pemuluran (elongation) dari bolt ditunjukan pada gambar disebelah kanan. Jika bolt ditarik dengan gaya kurang dari titik A, bolt akan kembali penuh kekondisi semula. Jika bolt ditarik dengan gaya B, sedikit diatas titik A, bolt juga akan memendek kembali, tetapi tidak penuh, dan bolt akan menjadi lebih panjang dari kondisi
semula. Jika bolt ditarik dengan dengan gaya C, bolt akan memanjang, dan tidak akan kembali kekondisi semula. Titik A pada gambar disebut dengan elastic limit, dan titik C disebut dengan yield point.

CATATAN:
Didalam ilmu dinamika, elastic limit didefinisikan sebagai maximum stress dari suatu benda padat yang dapat ditarik menjadi regang / tegang, tetapi tidak sampai menyebabkan perubahan bentuk saat stress dilepas.

TIGHTENING BOLTS BY THE PLASTIC RANGE TURNING ANGLE METHOD
  • Baut-baut penting pada engine 125, 140 & 170 Series di-torque dengan “plastic range turning angle method”. Dalam metode ini, baut-baut special harus digunakan. Dengan cara tersebut akan memberikan beban (plastic range) pada baut sehingga terjadi perubahan bentuk secara permanen, hasilnya daya kekencangan atau torque dari baut akan tinggi dan akurat.
  • Cara yang umum digunakan untuk mengencangkan baut adalah dengan “torque control method”. Dalam metode ini, bagaimanapun, sulit mendapatkan daya kekencangan yang akurat karena adanya gaya gesek (coefficient of friction) pada baut tersebut.
  • Metode plastic range turning angle diawali dengan tightening torque kemudian ditambah dengan derajat (turning angle).
  • Baut-baut yang dikencangkan dengan plastic range turning angle method adalah:
  1. Cylinder head mounting bolts
  2. Main cap mounting bolts
  3. Connecting rod cap mounting bolts
  4. Flywheel mounting bolts
  • Didalam plastic range turning angle method, Baut akan dipaksa tegang secara permanen setelah dikencangkan. Oleh karena itu, frekuensi pemakaian dari baut tersebut dibatasi. Perhatikan tindakan-tindakan pencegahan berikut ini.
  1. Sebelum dipakai, ukur panjang baut apakah sudah lebih dari tolerance limit atau tidak. Jangan menggunakan baut yang sudah lebih dari batas tolerance limit. Sebelum pengencangan, ukur free length dari bolt dan check apakah panjang baut lebih dari toleransi limit atau tidak.
  2. Jika menggunakan baut yang sudah dipakai, ukur juga free length dari baut tersebut.
  3. Beri tanda dengan penitik pada kepala baut setelah dikencangkan. Jangan gunakan lagi jika sudah lima kali pemakaian, gantilah dengan yang baru.
  4. Jika saat pengencangan baut melebihi batas derajat yang diijinkan, kendorkan lagi baut tersebut sampai nol kemudian kencangkan lagi sampai batas spesifikasinya. Kemudian tandai dengan dua titik (karena sudah dua kali pengencangan).
  5. Pengencangan dengan derajat harus sesuai berada pada nilai standar dan batas
  • Bersihkan setiap bagian dari baut dan cek dari kebengkokan, cacat, retak dan lain-lain.
Untuk mengetahui cara menggunakan torque wrench yang benar silahkan lihat disini.

    Popular Posts

    Powered by Blogger.